You are currently viewing Purbaya Soal Rupiah Menguat: Bukan Karena Thomas Djiwandono Saja

Purbaya Soal Rupiah Menguat: Bukan Karena Thomas Djiwandono Saja

Purbaya Soal Rupiah Menguat Bukan Karena Thomas Djiwandono Saja

Nilai tukar rupiah yang belakangan menunjukkan tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian publik. Banyak pihak mencoba mengaitkan kondisi ini dengan figur tertentu di pemerintahan, salah satunya Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono. Namun, pandangan tersebut diluruskan oleh Purbaya Yudhi Sadewa, yang menegaskan bahwa penguatan tidak bisa disederhanakan hanya karena peran satu orang saja.

Menurut Purbaya, dinamika nilai tukar adalah hasil dari kombinasi berbagai faktor ekonomi, baik domestik maupun global. Mengaitkan penguatan hanya pada figur tertentu berisiko menyesatkan pemahaman publik tentang bagaimana sistem keuangan bekerja.

Faktor Global Berperan Besar Rupiah

Purbaya menjelaskan bahwa kondisi global memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan rupiah. Salah satu faktor utama adalah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ketika ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed mulai mereda, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut berkurang.

Selain itu, arus modal asing yang kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia juga menjadi penopang penguatan rupiah. Investor global melihat Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang relatif stabil dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.

Kebijakan Domestik Tidak Bisa Diabaikan

Di dalam negeri, penguatan rupiah juga ditopang oleh kebijakan fiskal dan moneter yang konsisten. Koordinasi antara pemerintah dan bank sentral dalam menjaga inflasi, defisit anggaran, serta stabilitas sistem keuangan memberikan kepercayaan tambahan bagi pelaku pasar.

Purbaya menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolektif. Peran Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, hingga otoritas sektor keuangan saling melengkapi dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Karena itu, tidak adil jika keberhasilan hanya dilekatkan pada satu nama saja.

Peran Thomas Djiwandono dalam Konteks Lebih Luas

Meski demikian, Purbaya tidak menampik bahwa Thomas Djiwandono memiliki kontribusi dalam komunikasi kebijakan dan menjaga kepercayaan pasar. Namun, kontribusi tersebut harus dilihat sebagai bagian dari sistem yang lebih besar, bukan faktor tunggal penentu penguatan Tuna55.

Menurutnya, persepsi pasar dibangun oleh konsistensi kebijakan jangka panjang, bukan hanya oleh pernyataan atau langkah individu tertentu. Pasar keuangan cenderung merespons arah kebijakan secara keseluruhan, bukan personalisasi jabatan.

Edukasi Publik Jadi Tantangan

Purbaya juga menyoroti pentingnya edukasi publik dalam memahami isu ekonomi. Narasi yang terlalu menyederhanakan persoalan nilai tukar dapat menimbulkan ekspektasi yang keliru. Jika suatu saat rupiah melemah, publik bisa salah menyalahkan individu, padahal penyebabnya bersifat struktural dan global.

Ia berharap diskusi mengenai rupiah ke depan lebih berfokus pada penguatan fundamental ekonomi, peningkatan produktivitas, serta ketahanan sektor keuangan. Dengan pemahaman yang lebih utuh, masyarakat dapat melihat pergerakan secara lebih rasional dan objektif.

Kesimpulannya, penguatan rupiah adalah hasil kerja bersama dan dipengaruhi banyak faktor. Seperti ditegaskan Purbaya, menyematkan keberhasilan hanya pada satu tokoh bukanlah cara yang tepat untuk membaca realitas ekonomi. Rupiah menguat bukan karena Thomas Djiwandono saja, melainkan karena kombinasi kebijakan yang solid dan kondisi global yang mendukung.

Leave a Reply