
Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak pagi hari membuat aktivitas warga tersendat, termasuk perjalanan Dinda (26), seorang karyawan swasta yang harus menghadapi berbagai kendala sebelum akhirnya berhasil tiba di kantornya. Mulai dari gangguan layanan KRL Commuter Line, sulitnya memesan ojek online (ojol), hingga terpaksa naik bajaj dengan tarif lebih mahal, menjadi bagian dari perjuangan Dinda menembus kemacetan dan genangan banjir.
Perjalanan Dimulai dari KRL yang Tersendat
Dinda mengaku berangkat lebih awal dari biasanya untuk mengantisipasi hujan dan potensi banjir. Namun setibanya di stasiun, ia mendapati KRL yang akan ditumpanginya mengalami keterlambatan akibat gangguan operasional.
“Kalau lihat di papan informasi, kereta/kendaraan terlambat soalnya lintasannya kerendam air. Penumpang menumpuk, peronnya jadi penuh,” ujar Dinda.
Ia harus menunggu hampir satu jam sebelum akhirnya bisa naik KRL. Meski berhasil naik, perjalanan terasa jauh lebih lama karena kereta berjalan perlahan di beberapa titik rawan genangan.
Ojol Sulit Didapat karena Banjir
Setelah turun dari stasiun tujuan, Dinda berencana melanjutkan perjalanan menggunakan ojek online. Namun, upaya tersebut tak berjalan mulus. Aplikasi menunjukkan minimnya pengemudi yang tersedia di area tersebut.
“Sudah coba beberapa kali order, tapi selalu dibatalkan. Banyak driver yang enggak mau masuk karena jalannya tergenang,” katanya.
Situasi ini membuat Dinda mulai khawatir akan terlambat masuk kantor. Waktu terus berjalan, sementara hujan belum menunjukkan tanda-tanda reda.
Terpaksa Naik Bajaj dengan Tarif Lebih Mahal
Dalam kondisi terdesak, Dinda akhirnya memilih naik bajaj yang mangkal di pinggir jalan. Meski ragu dengan tarifnya, ia tak punya banyak pilihan.
“Biasanya paling Rp 20–30 ribu, tapi hari ini diminta Rp 60 ribu karena katanya jalannya banjir dan muter jauh,” ungkap Dinda.
Dengan sedikit tawar-menawar, Dinda akhirnya menerima tarif tersebut demi bisa segera sampai kantor.
Banjir Ganggu Mobilitas Warga
Kisah Dinda menjadi gambaran nyata bagaimana hujan deras dan banjir mengganggu mobilitas warga Jakarta. Keterlambatan transportasi massal, minimnya ojol, hingga tarif angkutan informal yang melonjak membuat banyak pekerja harus mengeluarkan biaya dan tenaga ekstra Tuna55.
BPBD DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk memantau kondisi cuaca dan lalu lintas sebelum berangkat, serta menyiapkan alternatif rute dan moda transportasi.
Tetap Bertahan demi Kewajiban
Meski lelah dan harus mengeluarkan biaya lebih besar, Dinda bersyukur akhirnya bisa tiba di kantor meski terlambat. “Yang penting sampai dan tetap bisa kerja. Mudah-mudahan besok sudah normal,” tutupnya.
Perjuangan Dinda menjadi potret kecil dari tantangan harian warga ibu kota saat musim hujan datang, ketika perjalanan singkat pun bisa berubah menjadi perjuangan panjang.