You are currently viewing Benarkah Google Anti Subdomain Gratis? Begini Penjelasan Pakar SEO

Benarkah Google Anti Subdomain Gratis? Begini Penjelasan Pakar SEO

Di dunia optimasi mesin pencari, pemilihan domain sering kali dianggap sebagai keputusan teknis sederhana. Padahal, di balik pilihan tersebut tersembunyi dampak besar terhadap performa SEO sebuah website. Salah satu topik yang kerap memicu perdebatan adalah penggunaan subdomain gratis. Banyak pelaku digital bertanya-tanya: apakah benar mesin pencari seperti Google memiliki alergi terhadap subdomain gratisan?

Pertanyaan ini mencuat setelah sebuah diskusi yang diangkat oleh Search Engine Journal, yang mengulas keluhan seorang pemilik situs di forum Reddit. Pemilik situs tersebut mengaku frustrasi karena kontennya tidak kunjung muncul di hasil pencarian, meskipun telah dioptimasi dari sisi teknis dan konten. Setelah ditelusuri, sumber masalahnya ternyata bukan pada isi website, melainkan pada fondasi domain yang digunakan: subdomain gratis.

Penjelasan Langsung dari Google

Menanggapi diskusi tersebut, John Mueller, Search Advocate Google, memberikan klarifikasi yang cukup tegas. Ia menjelaskan bahwa penggunaan subdomain gratis secara tidak langsung membuat sebuah website berbagi identitas dengan ribuan, bahkan jutaan situs lain yang berada di bawah layanan yang sama.

Masalah muncul ketika mayoritas situs dalam ekosistem subdomain gratis tersebut memiliki kualitas rendah, mengandung spam, atau bahkan aktivitas berbahaya. Dalam kondisi seperti itu, sistem Google berpotensi mengelompokkan seluruh subdomain di bawah layanan tersebut ke dalam kategori yang sama.

Mueller mengibaratkan situasi ini seperti tinggal di lingkungan yang reputasinya buruk. Ketika Anda menggunakan subdomain gratis, Anda berbagi ‘alamat’ dengan banyak situs lain. Jika sebagian besar tetangga Anda bermasalah, mesin pencari bisa saja menganggap Anda memiliki reputasi serupa, meskipun situs Anda bersih, jelasnya.

Pernyataan ini memperkuat pandangan bahwa Google bukan membenci subdomain gratis secara langsung, tetapi sangat memperhatikan konteks lingkungan digital tempat sebuah situs berada.

Peringatan Serupa dari Tim Google Search

Pandangan senada juga pernah disampaikan oleh Gary Illyes, analis dari tim Google Search. Ia menyoroti bahwa domain gratis atau Top Level Domain (TLD) yang terlalu murah sering kali tidak mendapatkan prioritas dalam proses crawling.

Dalam beberapa kasus, mesin pencari menjadi lebih berhati-hati atau bahkan enggan menelusuri sitemap secara mendalam. Dampaknya, halaman-halaman website membutuhkan waktu lebih lama untuk terindeks, atau bahkan tidak muncul sama sekali di hasil pencarian.

Bagi pemilik website yang menargetkan pertumbuhan organik jangka panjang, kondisi ini tentu menjadi hambatan serius. Konten berkualitas tinggi pun bisa tenggelam hanya karena fondasi domain yang kurang kredibel.

Fenomena Bad Neighborhood dalam SEO

Istilah bad neighborhood sudah lama dikenal di kalangan praktisi SEO. Konsep ini merujuk pada kondisi ketika sebuah website berada di lingkungan digital yang dipenuhi situs spam, malware, atau praktik manipulatif lainnya.

Eriga Syifaudin, SEO Specialist dari Qwords, menjelaskan bahwa risiko terbesar subdomain gratis terletak pada reputasi IP bersama (shared IP reputation). Ia mengibaratkan server hosting seperti sebuah apartemen besar.

IP Address itu ibarat alamat gedung. Ketika kamu memakai subdomain gratis, kamu menyewa satu unit kecil di gedung raksasa yang dihuni ribuan penyewa lain. Karena gratis dan tanpa seleksi ketat, siapa pun bisa tinggal di sana, termasuk situs judi ilegal, penyebar malware, atau peternak backlink spam, jelas Eriga.

Dalam kondisi seperti ini, mesin pencari kesulitan membedakan mana situs yang serius membangun brand dan mana yang sekadar memanfaatkan celah sistem. Akibatnya, website yang sebenarnya berkualitas bisa ikut terdampak secara tidak adil.

Mengapa Domain Berbayar Lebih Aman?

Menurut Eriga, solusi paling masuk akal bagi pemilik website yang ingin berkembang adalah meninggalkan infrastruktur gratisan dan beralih ke domain berbayar. Penggunaan TLD seperti .com, .id, atau .net memberikan pemisahan reputasi yang jelas antara satu website dengan website lainnya.

Secara teknis, domain berbayar memisahkan identitas situs Anda dari ribuan situs lain. Ini membuat Google lebih mudah menilai kualitas website secara individual, ujarnya.

Selain aspek SEO, domain berbayar juga meningkatkan kepercayaan pengguna. Bagi audiens, website dengan domain profesional terlihat lebih kredibel, aman, dan serius dibandingkan subdomain gratis yang sering diasosiasikan dengan proyek sementara.

Tren Kesadaran Digital di Indonesia

Menariknya, kesadaran akan pentingnya domain kredibel di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Domain .id sebagai country code top-level domain (ccTLD) Indonesia kini menjadi salah satu yang paling diminati di kawasan Asia Tenggara.

Berdasarkan data hingga 31 Desember 2025, jumlah pengguna domain .id tercatat mencapai 1.432.940 domain. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan tahun 2024 yang berada di kisaran 1,2 juta domain. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa pelaku digital di Indonesia semakin memahami pentingnya identitas online yang aman dan profesional.

Peningkatan adopsi domain nasional juga mencerminkan perubahan pola pikir: website tidak lagi dipandang sekadar sebagai pelengkap, melainkan aset bisnis jangka panjang yang membutuhkan fondasi kuat sejak awal.

Kesimpulan: Gratis Bukan Selalu Murah

Dari berbagai pandangan pakar, dapat disimpulkan bahwa Google tidak secara eksplisit membenci subdomain gratis. Namun, risiko yang melekat pada infrastruktur gratis membuat performa SEO menjadi jauh lebih rentan.

Bagi pemilik website yang serius membangun brand, mengandalkan subdomain gratis sama seperti membangun rumah di lingkungan yang tidak jelas reputasinya. Murah di awal, tetapi berpotensi mahal di kemudian hari. Investasi pada domain berbayar bukan sekadar soal nama alamat, melainkan langkah strategis untuk memastikan visibilitas, kredibilitas, dan pertumbuhan jangka panjang di mesin pencari. Tuna55

Leave a Reply