You are currently viewing Inflasi Januari 2026 Tembus 3,55%, Ekonom UI: Tak Perlu Dikhawatirkan

Inflasi Januari 2026 Tembus 3,55%, Ekonom UI: Tak Perlu Dikhawatirkan

Inflasi Januari 2026 Tembus 3,55%, Ekonom UI: Tak Perlu Dikhawatirkan

Laju inflasi nasional pada Januari 2026 tercatat menembus angka 3,55% secara tahunan (year-on-year). Angka ini memicu perhatian publik karena berada di atas rata-rata inflasi beberapa bulan sebelumnya. Meski demikian, para ekonom menilai kondisi tersebut masih berada dalam batas yang wajar dan belum memerlukan respons berlebihan dari masyarakat maupun pelaku usaha.

Ekonom dari Universitas Indonesia (UI) menegaskan bahwa kenaikan inflasi pada awal tahun merupakan pola yang kerap terjadi dan tidak selalu mencerminkan tekanan ekonomi yang serius.

Faktor Pendorong Inflasi Januari 2026

Kenaikan Harga Pangan Musiman

Salah satu kontributor utama inflasi Januari 2026 berasal dari kelompok bahan pangan. Cuaca yang tidak menentu di akhir tahun sebelumnya memengaruhi distribusi dan pasokan sejumlah komoditas seperti beras, cabai, dan bawang. Kondisi ini mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.

Selain itu, permintaan pangan biasanya meningkat pasca-libur akhir tahun dan awal tahun baru, sehingga tekanan harga menjadi lebih terasa pada Januari.

Penyesuaian Harga Jasa dan Transportasi

Faktor lain datang dari penyesuaian tarif jasa, termasuk transportasi dan layanan pendidikan. Awal tahun sering menjadi momentum evaluasi biaya operasional oleh penyedia jasa, yang kemudian berdampak pada harga yang dibayarkan masyarakat.

Meski demikian, tekanan dari sektor ini dinilai masih bersifat terbatas dan tidak menyebar secara luas ke seluruh komponen inflasi.

Pandangan Ekonom UI: Inflasi Masih Terkendali

Masih dalam Rentang Sasaran

Menurut ekonom UI, inflasi 3,55% masih berada dekat dengan sasaran inflasi nasional yang dijaga oleh Bank Indonesia. Selama inflasi tetap berada dalam kisaran yang dapat diprediksi, stabilitas ekonomi dinilai tetap terjaga.

Inflasi moderat justru mencerminkan adanya aktivitas ekonomi yang berjalan, mulai dari konsumsi rumah tangga hingga perputaran sektor jasa.

Daya Beli Masyarakat Relatif Aman

Ekonom juga menilai bahwa daya beli masyarakat belum tergerus secara signifikan. Kenaikan harga masih terkonsentrasi pada beberapa komoditas tertentu dan belum memicu lonjakan harga secara umum.

Selama pertumbuhan pendapatan dan lapangan kerja tetap stabil, inflasi di level ini tidak dianggap membahayakan kesejahteraan masyarakat.

Implikasi bagi Masyarakat dan Pelaku Usaha

Tidak Perlu Panic Buying

Masyarakat Tuna55 diimbau untuk tidak bereaksi berlebihan, seperti melakukan panic buying. Perilaku tersebut justru berpotensi memperparah tekanan harga dan menciptakan inflasi yang tidak perlu.

Pengelolaan keuangan yang bijak dan konsumsi sesuai kebutuhan tetap menjadi langkah terbaik dalam menghadapi kenaikan harga.

Peluang bagi Dunia Usaha

Bagi pelaku usaha, inflasi yang terkendali membuka ruang untuk penyesuaian strategi harga dan produksi. Dunia usaha diharapkan mampu menjaga efisiensi agar tidak membebankan kenaikan biaya secara berlebihan kepada konsumen.

Inflasi Januari 2026 yang mencapai 3,55% memang patut dicermati, namun belum perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Faktor musiman dan penyesuaian harga menjadi penyebab utama, sementara fundamental ekonomi masih menunjukkan kondisi yang stabil. Dengan kebijakan moneter yang terjaga dan respons rasional dari masyarakat, inflasi diperkirakan tetap berada dalam jalur yang aman sepanjang tahun 2026.

Leave a Reply