
Pesan pribadi antara Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi sorotan
global setelah Trump membocorkan isi pesan tersebut melalui akun media sosialnya beberapa waktu lalu. Bocoran ini muncul
di tengah ketegangan antara Washington dan sekutu Eropa soal isu geopolitik, terutama rencana Trump terkait Greenland,
yang memicu reaksi keras dari Paris dan Uni Eropa.
Pesan Pribadi Macron Mulai dengan Nada Diplomatis
Dalam pesan pribadi yang dibocorkan itu, Macron membuka komunikasi dengan nada kerja sama. Ia mengawali dengan menyatakan bahwa
kedua negara memiliki kesepahaman dalam beberapa isu besar, terutama Suriah. Macron menulis bahwa Paris dan Washington
“sepenuhnya sejalan” dalam menangani konflik di Suriah, serta melihat peluang untuk berkolaborasi lebih jauh soal Iran.
Kalimat itu menunjukkan usaha Macron untuk menemukan titik temu dalam isu yang selama ini menjadi sorotan bersama,
meskipun hubungan kedua pemimpin tengah diuji oleh masalah lain.
Ketidakpahaman Macron soal Greenland
Namun percakapan itu berubah tajam saat Macron mengungkapkan ketidakpahamannya terhadap langkah Trump perihal Greenland.
Dalam pesan yang beredar, ia menulis secara tegas:
Greenland — sebuah wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark — telah menjadi titik konflik diplomatik antara AS dan negara-negara Eropa.
Trump sebelumnya menyuarakan keinginannya untuk memperluas keterlibatan AS di wilayah itu, yang memicu tantangan besar terhadap
kedaulatan Denmark dan menimbulkan kekhawatiran di Brussel dan Paris.
Ucapan Macron ini secara langsung menunjukkan kekecewaan dan kebingungan sekutu Eropa atas kebijakan Trump yang dinilai
agresif dan sulit dipahami dari sudut pandang sekutu.
Usulan KTT G7 dan Undangan Diplomatik
Meski begitu, dalam pesan yang sama Macron tetap menawarkan jalan dialog. Ia menyampaikan kesiapan Prancis menjadi tuan rumah
pertemuan puncak G7 di Paris, yang direncanakan berlangsung beberapa hari setelah Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum)
di Davos. Dalam undangan itu, Macron juga mengusulkan agar sejumlah negara yang sempat berada di pusat perhatian diplomatik —
seperti Ukraina, Denmark, Suriah, dan Rusia — dilibatkan sebagai peserta sampingan dalam sidang tersebut.
Macron bahkan mengundang Trump untuk bertemu secara informal dalam makan malam di Paris sebelum Trump kembali ke Amerika
Serikat. Ini menunjukkan bahwa, meskipun ada perbedaan pandangan, Paris masih membuka ruang dialog intensif dengan Washington.
Reaksi Setelah Bocornya Pesan
Bocornya pesan Macron memicu kecaman dan balasan publik. Macron sendiri menegaskan bahwa ia bertanggung jawab atas kata-kata
dan tindakannya, bahkan ketika pesan pribadi itu dibuka ke publik. Ia mengatakan bahwa ia konsisten antara apa yang dikatakannya secara
pribadi dan publik, dan menegaskan kembali nilai hukum internasional serta prinsip saling menghormati kedaulatan negara Tuna55.
Di Davos, Macron juga memberi pernyataan keras bahwa Eropa tidak akan tunduk pada tekanan atau intimidasi dan bahwa nilai-nilai
internasional seperti “rule of law” (aturan hukum) harus tetap dijunjung tinggi setelah insiden bocornya pesan ini.
Dampak Bocornya Pesan dalam Hubungan AS–Eropa
Bocornya pesan pribadi ini menjadi simbol ketegangan diplomatik yang makin memanas antara AS dan sekutu Eropa menjelang pertemuan-pertemuan puncak internasional. Trump menggunakan pesan yang dibocorkan untuk menekankan dukungan yang ia klaim dimiliki dari
sekutu dalam isu-isu tertentu, termasuk beberapa kebijakan luar negeri.
Namun bocornya percakapan pribadi telah memicu kritik tajam tentang konvensi diplomasi modern, di mana kepercayaan antara pemimpin
negara menjadi lebih rapuh dan interaksi pribadi bisa dengan cepat menjadi konsumsi publik dan politik.